Saturday, 23 August 2014

Nur Muhammad Realitas Ruhani

NUR MUHAMMAD REALITAS RUHANI

      2 VotesNur Muhammad Realitas Ruhani. Sesungguhnya yang pertama sekali diciptakan Allah SWT adalah suatu realitas gaib yang bersifat ruhani sebagaimana yang telah disampaikan Rasulullah Muhammad SAW yaitu bahwa yang mula mula diciptakan oleh Allah adalah Nur Muhammad yang diciptakan dari cahaya Ketuhanan. Selanjutnya juga disampaikan bahwa yang pertama sekali diciptakan adalah Qalam dan Aqlu (akal), sehingga realitasruhani dari hakikat Nur Muhammad tersebut difahami dalam beberapa realitas konsep yang pada hakikatnya adalah satu yaitu Sifat dari Zat yang bernama AllahDisebut Nur atau Cahaya karena Nur Muhammad itu bebas dan bersih dari segala kegelapan dan atau karena dengan Nur Muhammad tersebut segala kegelapan hilang dan musnah.Disebut Akal yaitu Akal Alam semesta karena dengan Nur Muhammad ini Allah melahirkan sifat Ilmu – Nya yang Maha Mengetahui segala sesuatu.Disebut Qalam atau Pena karena dengan Nur Muhammad ini Allah menyampaikan dan menyebarkan ilmu dan hikmah dalam bentuk dan rupa huruf, angka dan perkataanDisebut Ruh atau Nyawa karena dengan Nur Muhammad ini Allah melahirkan sifat hayat yang berarti hidup dan menghidupkan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan hidup dan kehidupan makhluk dengan TuhannyaDengan pemahaman tersebut dapat disimpulkan bahwa Nur Muhammad adalah sumber dari segala sesuatu yang berwujud. Dialah yang awal yang menjadi hakikat alam semesta. Allah menciptakan segala ruh dari ruhnya.Nur Muhammad adalah nama bagi insan di alam gaib yaitu alam tempat berkumpulnya seluruh ruh sebelum diturunkan ke alam yang paling rendah yaitu alam kebendaan yang nyata.” Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya”  ( QS : 095 : At Tiin : Ayat : 04  05 )Bahwa nyatanya Hayat Allah Taala adalah pada hidupnya Muhammad, nyatanya hidup Muhammad itu pada tubuh kita. Apabila tidak hidup tubuh kita itu , maka tidak nyata hidup Muhammad. Apabila tidak nyata hidup Muhammad, maka tidak nyata Hayat-Nya Allah TaalaBahwa nyatanya Ilmu Allah Taala adalah pada tahunya Muhammad, nyatanya tahu Muhammad itu pada hati kita. Apabila tidak tahu hati kita itu , maka tidak nyata tahu Muhammad. Apabila tidak nyata tahu Muhammad, maka tidak nyata Ilmu-Nya Allah TaalaBahwa nyatanya Qudrat Allah Taala adalah pada kuasanya Muhammad, nyatanya kuasa Muhammad itu pada tulang kita. Apabila tidak kuasa tualang kita itu , maka tidak nyata kuasa Muhammad. Apabila tidak nyata kuasa Muhammad, maka tidak nyata Qudrat-Nya Allah TaalaBahwa nyatanya Iradat Allah Taala adalah pada kehendaknya Muhammad, nyatanya kehendak Muhammad itu pada nafsu kita. Apabila tidak berkehendak nafsu kita itu , maka tidak nyata kehendak Muhammad. Apabila tidak nyata kehendak Muhammad, maka tidak nyata Iradat-Nya Allah TaalaBahwa nyatanya Samik Allah Taala adalah pada pendengaran Muhammad, nyatanya pendengaran Muhammad itu pada telinga kita. Apabila tidak mendengar telinga kita itu , maka tidak nyata pendengaran Muhammad. Apabila tidak nyata pendengaran Muhammad, maka tidak nyata Samik-Nya Allah TaalaBahwa nyatanya Basir Allah Taala adalah pada penglihatan Muhammad, nyatanya penglihatan Muhammad itu pada mata kita. Apabila tidak melihat mata kita itu , maka tidak nyata penglihatan Muhammad.Apabila tidak nyata penglihatan Muhammad, maka tidak nyata Basir-Nya Allah TaalaBahwa nyatanya Kalam Allah Taala adalah pada perkataan Muhammad, nyatanya perkataan Muhammaditu pada lidah kita. Apabila tidak berkata lidah kita itu , maka tidak nyata perkataan Muhammad. Apabila tidak nyata perkataan Muhammad, maka tidak nyata Kalam-Nya Allah TaalaMaka tidak satu pun yang ada pada diri kita melainkan semua adalah pada Muhammad yaitu Nur Muhammad dan tidak ada segala sesuatu itu melainkan adanya Nur Muhammad, sehingga pemahaman ini adalah kelanjutan dari pemahaman kajian terdahulu yang telah disampaikan bahwa. Zat pada Allah, Sifat pada Muhammad. Rupa pada Adam dan Rahasia pada Kita. Dan semoga kajian yang singkat ini bisa sedikit memberikan kejelasan tentang Rahasia dari Kajian Tariqat Tentang Hakikat Nur Muhammad dan selanjutnya bisa menjadi materi dan bahan dalam diskusi di majelis masing  masing. Amin ( Hakikat Nur Muhammad ) Disalin dari annafiz.wordpress.com

Lanjutan pembahasan Hakikat Nur Muhammad

Lanjutan Pembahasan Hakikat Nur Muhammad

      1 VoteAlimul Fadhil H. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani al-Banjari (Guru Sekumpul) pernah menyinggung dan menguraikan pembahasan tentang salah satu tema yang selalu aktual diperbincangkan dalam dunia tasawuf, yakni wacana tentang ‘Nur Muhammad’ dalam salah satu pengajian beliau di Komplek al-Raudah Sekumpul Martapura. Untuk membutiri kembali pandangan tentang Nur Muhammad dimaksud seiring dengan peringatan haul beliau yang ke-5 tahun ini (5 Rajab 1431 H ─ 17 Juni 2010 M) berikut tulisan ini dihadirkan guna pencerahan. Apakah yang dimaksud dengan Nur Muhammad tersebut?Dalam kitab Hikayat Nur Muhammad diceritakan bahwa tubuh manusia (anak Adam) mengandungi tiga unsur, yakni jasad, hati dan roh. Di dalam roh terdapat hakikat, di dalam hakikat tersimpan rahasia, rahasia itulah yang dinamakan makrifah Allah. Di dalam makrifah pula ada zat yang tidak menyerupai sesuatu pun.Rahasia atau makrifah Allah ini dinamakan Insan Kamil. Insan Kamil dijadikan dari Nur yang melimpah dari zat Haqq Ta’ala.Menurut riwayat, sumber cerita tentang kejadian Nur Muhammad ini bermula dari biografi Nabi Muhammad yang ditulis oleh Ibnu Ishaq (sejarawan Islam). Dalam biografi tersebut, Ibnu Ishaq ada mencatat riwayat yang menyatakan bahwa Allah telah menciptakan Nur Muhammad dan Nur itu telah diwarisi melalui generasi nabi-nabi hingga ia sampai kepada Abdullah bin Abdul Muthalib dan turun kepada Nabi Muhammad Saw.Kemudian terdapat sejumlah hadis yang menerangkan tentang Nur tersebut, antaranya, “sesungguhnya yang mula-mula dijadikan oleh Allah adalah cahaya-ku (Nur Muhammad)………”.Beragam pandangan terhadap hadis ini, ada yang menyatakan maudhu’ (tertolak), dhaif (lemah), bersumber dari falsafah Yunani, tetapi ada pula yang menyatakan bahwa riwayat tersebut boleh diterima karenanya sanadnya bersambung.Hadis tersebut cukup panjang matannya dan diringkas sebagai berikut: “Dan telah meriwayatkan oleh Abdul Razak dengan sanadnya dari Jabir bin Abdullah ra, beliau berkata: “Ya Rasulullah, demi bapaku, engkau dan ibuku, khabarkanlah daku berkenaan awal-awal sesuatu yang Allah telah ciptakan sebelum sesuatu! Bersabda Nabi Saw: “Ya Jabir, sesungguhnya Allah menciptakan sebelum sesuatu, Nur Nabi-mu daripada Nur-Nya’.Maka jadilah Nur tersebut berkeliling dengan Qudrat-Nya sekira-kira yang dihendaki Allah. Padahal tiada pada waktu itu lagi sesuatu pun; tidak ada lauh mahfuzh, qalam, sorga, neraka, Malaikat, langit, bumi, matahari, bulan, jin dan manusia; tiada apa-apa yang diciptakan, kecuali Nur ini.Dari nur inilah kemudian diciptakan-Nya qalam, lauh mahfuzh dan Arsy. Allah kemudian memerintahkan qalam untuk menulis, dan qalam bertanya, “Ya Allah, apa yang harus saya tulis?” Allah berfirman: “Tulislah La ilaha illallah Muhammad Rasulullah.” Atas perintah itu qalam berseru: “Oh, betapa sebuah nama yang indah dan agung Muhammad itu, bahwa dia disebut bersama Asma-Mu yang Suci, ya Allah.” Allah kemudian berkata, “Wahai qalam, jagalah kelakuanmu ! Nama ini adalah nama kekasih-Ku, dari Nur-nya Aku menciptakan arsy, qalam dan lauh mahfuzh; kamu, juga diciptakan dari Nur-nya. Jika bukan karena dia, Aku tidak akan menciptakan apa pun.”Ketika Allah telah mengatakan kalimat tersebut, qalam itu terbelah dua karena takutnya akan Allah dan tempat dari mana kata-katanya tadi keluar menjadi tertutup, sehingga sampai dengan hari ini ujung nya tetap terbelah dua dan tersumbat, sehingga dia tidak menulis, sebagai tanda dari rahasia ilahiah yang agung.Maka, jangan seorangpun gagal dalam memuliakan dan menghormati Nabi Suci, atau menjadi lalai dalam mengikuti contohnya (Nabi) yang cemerlang, atau membangkang dan meninggalkan kebiasaan mulia yang diajarkannya kepada kita.………dan seterusnya.Bagaimana penjelasan Guru Sekumpul tentang Nur Muhammad tersebut? Secara ringkas penjelasan beliau sebagaimana konten materi pengajian yang bertemakan tentang ‘Kesempurnaan’ (penjelasan ini bahkan beliau ulang-ulang tidak kurang dari tiga kali) boleh diringkaskan sebagai berikut:Beliau memulai penjelasannya dengan ungkapan yang sangat dikenal dalam dunia tasawuf, di mana untuk mengenal Tuhan seseorang harus terlebih dahulu mengenal akan dirinya.Maksudnya, untuk sampai kepada pengenalan terhadap Tuhan, menurut Guru Sekumpul haruslah terlebih dahulu dipahami dua hal. Pertama, ia harus terlebih dahulu mengenal asal mula akan kejadian dirinya sendiri, dari mana, di mana dan bagaimana ia dijadikan? Kedua, ia harus terlebih dahulu mengetahui apa sesuatu yang mula-mula dijadikan oleh Allah Swt. Kedua perkara di atas menjadi prasyarat kesempurnaan bagi para penuntut (salik) dalam mengenal (makrifah) kepada Allah.Adapun yang mula-mula dijadikan oleh Allah adalah Nur Muhammad Saw yang kemudiannya dari Nur Muhammad inilah Allah jadikan roh dan jasad alam semesta.Bermula dari Nur Muhammad inilah maka sekalian roh (dan roh manusia) diciptakan Allah sedangkan jasad manusia diciptakan mengikut kepada dan dari jasad Nabi Adam as. Karena itu, Nabi Muhammad Saw adalah ‘nenek moyang roh’ sedangkan Nabi Adam as adalah ‘nenek moyang jasad’.Hakikat dari penciptaan Adam as sendiri adalah berasal dari tanah (Nur Turab), tanah berasal dari air, air berasal dari angin, angin berasal dari api, dan api itu sendiri berasal dari Nur Muhammad.Sehingga pada prinsipnya roh manusia diciptakan berasal dari Nur Muhammad dan jasad atau tubuh manusia pun hakikatnya berasal dari Nur Muhammad. Jadilah kemudian ‘cahaya di atas cahaya’ (QS. An-Nuur 35), di mana roh yang mengandung Nur Muhammad ditiupkan kepada jasad yang juga mengandung Nur Muhammad.Bertemu dan meleburlah kemudian roh dan jasad yang berisikan Nur Muhammad ke dalam hakikat Nur Muhammad yang sebenarnya. Tersebab bersumber pada satu wujud dan nama yang sama, maka roh dan jasad tersebut haruslah disatukan dengan mesra menuju kepada pengenalan Yang Maha Mutlak, Zat Wajibul Wujud yang memberi cahaya kepada langit dan bumi, dan yang semula menciptakan, sebagaimana mesranya hubungan antara air dan tumbuhan, di mana ada air di situ ada tumbuhan, dan dengan airlah segala makhluk dihidupkan (QS. Al-Anbiya 30).Pengenalan terhadap hakikat Nur Muhammad inilah maqam atau stasiun yang terakhir dari pencarian akan makrifah kepada Allah, Martabat Nur Muhammad inilah martabat yang paling tinggi, dan pengenalan akan Nur Muhammad inilah yang menjadi ‘kesempurnaan ilmu atau ilmu yang sempurna’.Menarik untuk mengkaji ulang penjelasan Guru Sekumpul di atas dengan membandingkannya kepada penjelasan tokoh-tokoh tasawuf yang juga membahas dan menyinggung tentang wacana ini.Al-Hallaj yang mencetuskan teori hulul misalnya menyatakan bahwa Nur Muhammad mempunyai dua bentuk, yakni Nabi Muhammad yang dilahirkan dan menjadi cahaya rahmat bagi alam “tidaklah engkau diutus wahai (Muhammad Rasulullah Saw) melainkan menjadi rahmat bagi seluruh alam” (martabat al-a’yanu’l Kharijiyyah) dan yang berbentuk Nur (martabat a’yanu’l Thabitah).Nur Muhammad adalah cahaya semula yang melewati dari Nabi Adam ke nabi yang lain bahkan berlanjut kepada para imam maupun wali; cahaya melindungi mereka dari perbuatan dosa (maksum); dan mengaruniai mereka dengan pengetahuan tentang rahasia-rahasia Illahi.Allah telah menciptakan Nur Muhammad jauh sebelum diciptakan Adam as. Lalu, Allah menunjukkan kepada para malaikat dan makhluk lainnya, bahwa: “Inilah makhluk Allah yang paling mulia”. Oleh itu, harus dibedakan antara konsep Nur (Muhammad) sebagai manusia biasa (seorang Nabi) dan Nur Muhammad secara dimensi spiritual yang tidak dapat digambarkan dalam dimensi fisik dan realiti.Menurut sufi, Muhyiddin Ibn Arabi, Nur Muhammad sebagai prinsip aktif di dalam semua pewahyuan dan inspirasi. Melalui Nur ini pengetahuan yang kudus itu diturunkan kepada semua nabi, tetapi hanya kepada Ruh Muhammad saja diberikan jawami al-qalim (firman universal).Sedangkan menurut pencetus teori ‘insan kamil’, Abdul Karim bin Ibrahim al-Jili (1365-1428 M) dalam karyanya, al-Insan al-Kamil fî Ma’rifat al-Awakhir wa al-Awa’il (Manusia Sempurna dalam Mengetahui Allah Sejak Awal hingga Akhirnya), menyatakan bahwa Nur Muhammad memiliki banyak nama sebanyak aspek yang dimilikinya. Ia disebut ruh dan malak apabila dikaitkan dengan ketinggiannya.Tidak ada kekuasaan makhluk yang melebihinya, semuanya tunduk mengitarinya, karena ia kutub dari segenap malak. Ia disebut al-Haqq al Makhluq bih, (al-Haqq sebagai alat pencipta), hanya Allah yang tahu hakikatnya secara pasti. Dia disebut al-Qalam al-A’la (pena tertinggi) dan al-Aql al-Awal (akal pertama) karena wadah pengetahuan Tuhan terhadap alam maujud, dan Tuhanlah yang menuangkan sebagian pengetahuannya kepada makhluk.Adapun disebut al-Ruh al-Ilahi (ruh ketuhanan) karena ada kaitannya dengan ruh al-Quds (ruh Tuhan), al-Amin (ruh yang jujur) adalah karena ia adalah perbendaharaan ilmu tuhan dan dapat dipercayai-Nya. Oleh itu, menurut Al-Jili, lokus tajalli al-Haq yang paling sempurna adalah Nur Muhammad. Nur Muhammad ini telah ada sejak sebelum alam ini ada, ia bersifat qadim lagi azali. Nur Muhammad itu berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam berbagai bentuk para nabi, yakni Adam, Nuh, Ibrahim, Musa hingga dalam bentuk nabi penutup (khatamun nabiyyin), Muhammad Saw.Banyak lagi penjelasan dan pembahasan tentang Nur Muhammad dimaksud. Karena, memang sejak awal kedatangan dan perkembangan Islam di ‘Bumi Nusantara’, wacana Nur Muhammad dalam berbagai konteksnya sehingga sekarang, telah menarik perhatian umat Islam. Hal ini paling tidak didukung oleh tiga faktor.Pertama, terlihat dari banyaknya salinan yang beredar pada masa itu berkenaan dengan ‘Hikayat Nur Muhammad’ Misalnya, Hikayat Nur Muhammad naskah Betawi yang disalin pada tahun 1668 M oleh Ahmad Syamsuddin Syah. Menurut Ali Ahmad (2005) sehingga sekarang, sekurang-kurangnya terdapat tujuh versi Hikayat Nur Muhammad.Kedua, apresiasi terhadap konsep Nur Muhammad telah mendorong lahirnya karya klasik ulama Nusantara yang secara khusus berisikan pembahasan tentang teori ini. Antaranya adalah kitab Asrar al-Insan fi Makrifah al-Ruh wa al-Rahman karya Nuruddin al-Raniri (Aceh), tiga kitab karangan Hamzah Fansuri (Barus-Aceh); Asrar al-‘Arifin, Syarab al-‘Asyiqin, dan al-Muntahi, serta Nur al-Daqa’iq oleh Syamsuddin al-Sumaterani (Pasai).Dalam kitab Asrar al-Insan dijelaskan bahwa Allah menjadikan Nur Muhammad dari tajalli (manifestasi) sifat Jamal-Nya dan Jalal-Nya, maka jadilah Nur Muhammad itu khalifah di langit dan di bumi; Nur Muhammad adalah asal segala kejadian di langit dan di bumi. Di dalam kitab Asrar al-’Arifin dibincangkan teori wahdah al-wujud yang semula diperkenalkan oleh Abdullah Arif dalam Bahr al-Lahut dan Ibnu Arabi, kemudian dikembangkan lagi oleh Muhammad bin Fadhlullah al-Burhanpuri melalui teori Martabat Tujuh dalam kitab Tuhfah al-Mursalah ila Ruh al-Nabi. Kemudian, dalam al-Muntahi, Hamzah menyatakan bahwa wujud itu satu yaitu wujud Allah yang mutlak. Wujud itu bertajalli dalam dua martabat; ahadiyah dan wahidiyah. Dalam kitab Nur al-Daqa’iq juga dibahas tentang wujudiyah dan martabat tujuh.Variasi teori Nur Muhammad dalam bentuk martabat tujuh boleh didapati pembahasannya dalam beberapa kitab yang ditulis oleh ulama Melayu Nusantara, antaranya adalah dibahas dalam kitab Siyarus Salikin yang dikarang oleh Syekh Abdul Shamad al-Palimbani; kitab Manhalus Syafi (Uthman el-Muhammady, 2003) yang dikarang oleh Syekh Daud bin Abdullah al-Fathani; Pengenalan terhadap Ajaran Martabat Tujuh yang dikarang atau dinukilkan kepada Syekh Abdul Muhyi Pamijahan; dan kitab al-Durr al-Nafis yang di karang oleh Syekh Muhammad Nafis al-Banjari. Oleh itu, Syekh Muhammad Nafis al-Banjari dengan kitabnya Al-Durr al-Nafis ditegaskan oleh Wan Mohd Shagir Abdullah (2000) sebagai salah seorang ulama Banjar penganjur ajaran tasawuf Martabat Tujuh di Nusantara.Dalam teori martabat tujuh dipahami bahwa dunia manusia merupakan dunia perubahan dan pergantian, tidak ada sesuatu yang tetap di dalamnya. Segalanya akan selalu berubah, memudar, dan setelah itu akan mati. Oleh karena itulah, manusia ingin berusaha mengungkap hakikat dirinya agar dapat hidup kekal seperti Yang Menciptakannya. Untuk mengungkap hakikat dirinya, manusia memerlukan seperangkat pengetahuan batin yang hanya dapat dilihat dengan mata hati yang ada dalam sanubarinya. Seperangkat pengetahuan yang dimaksud adalah ilmu ma‘rifatullah.Ilmu ma’rifatullah merupakan suatu pengetahuan yang dapat dijadikan pedoman bagi manusia untuk mengenal dan mengetahui Allah. Ilmu ma‘rifatullah terbahagi menjadi dua macam, yaitu ilmu ‘makrifat tanzih’ (transeden) dan ‘ilmu makrifat tasybih’ (imanen). Tuhan menyatakan diri-Nya dalam Tujuh Martabat, yaitu martabat pertama disebut martabat tanzih (la ta‘ayyun atau martabat tidak nyata, tak terinderawi) dan martabat kedua sampai dengan martabat ketujuh disebut martabat tasybih (ta‘ayyun atau martabat nyata, terinderawi).Yakni, martabat Ahadiyyah (ke-’ada’-an Zat yang Esa); martabat Ahadiyyah (ke-’ada’-an Zat yang Esa); martabat Wahidiyyah (ke-’ada’-an asma yang meliputi hakikat realitas keesaan); Keempat, martabat Alam Arwah; martabat Alam Mitsal; martabat Alam Ajsam (alam benda); dan martabat Alam Insan.Ketujuh proses perwujudan di atas, keberadaannya terjadi bukan melalui penciptaan, tetapi melalui emanasi (pancaran). Untuk itulah, antara martabat tanzih (transenden atau la ta‘ayyun atau martabat tidak nyata) dengan martabat tasybih (imanen atau ta‘ayyun atau martabat nyata) secara lahiriah keduanya berbeda, tetapi pada hakikatnya keduanya sama.Seorang Sâlik yang telah mengetahui kedua ilmu ma‘rifatullah, baik Ma‘rifah Tanzih (ilmu yang tak terinderawi) maupun Ma‘rifah Tasybih (ilmu yang terinderawi), ia akan sampai pada tataran tertinggi, yaitu tataran rasa bersatunya manusia dengan Tuhan atau dikenal dengan sebutan Wahdatul-Wujûd.Uraian tersebut dapat dianalogikan dengan air laut dan ombak. Air laut dan ombak secara lahiriah merupakan dua hal yang berbeda, tetapi pada hakikatnya ombak itu berasal dari air laut sehingga keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat terpisah.Ketiga, di Nusantara, Hikayat Nur Muhammad merupakan teks yang  populer sekitar abad ke-14 M. Ini dibuktikan dengan tersebar luasnya kitab yang berjudul Tarjamah Maulid al-Mustafa bertahun 1351 M (Ali Ahmad, 2005), dan disinggungnya wacana ini dalam kitab Taj al-Muluk, Qishah al-Anbiya, Bustan al-Salatin, atau Hikayat Ali Hanafiah.Membandingkan apa-apa yang digambarkan oleh Guru Sekumpul berkenaan dengan Nur Muhammad dengan uraian-uraian ulama terdahulu tampaknya tidak jauh berbeda sebagaimana pandangan umum para sufi dalam melihat Nur Muhammad sebagai yang terawal diciptakan dan kemudiannya menjadi sumber dari segala penciptaan.Di samping itu, menurut Guru Sekumpul maqam Nur Muhammad adalah maqam paling tinggi dari pencarian dan pendakian sufi menuju makrifah kepada Allah, tiada lagi maqam atau stasiun paling tinggi sesudah ini. Kesimpulannya, berbahagialah orang-orang yang dapat menyandingkan penyatuan sumber asal mula penciptaannya dalam satu harmoni, yakni Nur Muhammad, sebab ia berada pada satu kedudukan yang tinggi dan terbukanya segala hijab yang membatasinya.Penciptaan Ruh Kanjeng Nabi Muhammad SAW.Saat Allah Subhanahu wa Ta’ala mengeluarkan keputusan Ilahiah untuk mewujudkan makhluq, Ia pun menciptakan Haqiqat Muhammadaniyyah (Realitas Muhammad –Nuur Muhammad) dari Cahaya-Nya. Ia Subhanahu wa Ta’ala kemudian menciptakan dari Haqiqat ini keseluruhan alam, baik alam atas maupun bawah. Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian memberitahu Muhammad akan Kenabiannya, sementara saat itu Adam masih belum berbentuk apa-apa kecuali berupa ruh dan badan. Kemudian darinya (dari Muhammad) keluar tercipta sumber-sumber dari ruh, yang membuat beliau lebih luhur dibandingkan seluruh makhluq ciptaan lainnya, dan menjadikannya pula ayah dari semua makhluq yang wujud.Dalam Sahih Muslim, Nabi (SAW) bersabda bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menulis Taqdir seluruh makhluq lima puluh ribu tahun (dan tahun di sisi Allah adalah berbeda dari tahun manusia, peny.) sebelum Ia menciptakan Langit dan Bumi, dan `Arasy-Nya berada di atas Air, dan di antara hal-hal yang telah tertulis dalam ad-Dzikir, yang merupakan Umm al-Kitab (induk Kitab), adalah bahwa Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam adalah Penutup para Nabi. Al Irbadh ibn Sariya, berkata bahwa Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Menurut Allah, aku sudah menjadi Penutup Para Nabi, ketika Adam masih dalam bentuk tanah liat.”Maysara al-Dhabbi (ra) berkata bahwa ia bertanya pada Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam, “Ya RasulAllah, kapankah Anda menjadi seorang Nabi?” Beliau sall-Allahu ‘alayhi wasallam menjawab, “Ketika Adam masih di antara ruh dan badannya.”Suhail bin Salih Al-Hamadani berkata, “Aku bertanya pada Abu Ja’far Muhammad ibn `Ali radiy-Allahu ‘anhu, `Bagaimanakah Nabi Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam bisa mendahului nabi-nabi lain sedangkan beliau akan diutus paling akhir?” Abu Ja’far radiy-Allahu ‘anhu menjawab bahwa ketika Allah menciptakan anak-anak Adam (manusia) dan menyuruh mereka bersaksi tentang Diri-Nya (menjawab pertanyaan-Nya, `Bukankah Aku ini Tuhanmu?’), Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam-lah yang pertama menjawab `Ya!’ Karena itu, beliau mendahului seluruh nabi-nabi, sekalipun beliau diutus paling akhir.”Al-Syaikh Taqiyu d-Diin Al-Subki mengomentari hadits ini dengan mengatakan bahwa karena Allah Ta’ala menciptakan arwah (jamak dari ruh) sebelum tubuh fisik, perkataan Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam “Aku adalah seorang Nabi,” ini mengacu pada ruh suci beliau, mengacu pada hakikat beliau; dan akal pikiran kita tak mampu memahami hakikat-hakikat ini. Tak seorang pun memahaminya kecuali Dia yang menciptakannya, dan mereka yang telah Allah dukung dengan Nur Ilahiah.Jadi, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengaruniakan kenabian pada ruh Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam bahkan sebelum penciptaan Adam; yang Ia telah ciptakan ruh itu, dan Ia limpahkan barakah tak berhingga atas ciptaan ini, dengan menuliskan nama Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam pada `Arasy Ilahiah, dan memberitahu para Malaikat dan lainnya akan penghargaan-Nya yang tinggi bagi beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam). Dus, Haqiqat Nabi Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam telah wujud sejak saat itu, meski tubuh ragawinya baru diciptakan kemudian. Al Syi’bi meriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya, “Ya RasulAllah, kapankah Anda menjadi seorang Nabi?” Beliau menjawab, “ketika Adam masih di antara ruh dan badannya, ketika janji dibuat atasku.” Karena itulah, beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) adalah yang pertama diciptakan di antara para Nabi, dan yang terakhir diutus.Diriwayatkan bahwa Nabi (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) adalah satu-satunya yang diciptakan keluar dari sulbi Adam sebelum ruh Adam ditiupkan pada badannya, karena beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) adalah sebab dari diciptakannya manusia, beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) adalah junjungan mereka, substansi mereka, ekstraksi mereka, dan mahkota dari kalung mereka.`Ali ibn Abi Thalib karram-Allahu wajhahu dan Ibn `Abbas radiy-Allahu ‘anhu keduanya meriwayatkan bahwa Nabi (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) bersabda, “Allah tak pernah mengutus seorang nabi, dari Adam dan seterusnya, melainkan sang Nabi itu harus melakukan perjanjian dengan-Nya berkenaan dengan Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam): seandainya Muhammad (SAW) diutus di masa hidup sang Nabi itu, maka ia harus beriman pada beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) dan mendukung beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam), dan Nabi itu pun harus mengambil janji yang serupa dari ummatnya.Diriwayatkan bahwa ketika Allah SWT menciptakan Nur Nabi kita Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam, Ia Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan padanya untuk memandang pada nur-nur dari Nabi-nabi lainnya. Cahaya beliau melingkupi cahaya mereka semua, dan Allah SWT membuat mereka berbicara, dan mereka pun berkata, “Wahai, Tuhan kami, siapakah yang meliputi diri kami dengan cahayanya?” Allah Subhanahu wa Ta’ala menjawab, “Ini adalah cahaya dari Muhammad ibn `Abdullah; jika kalian beriman padanya akan Kujadikan kalian sebagai nabi-nabi.” Mereka menjawab, “Kami beriman padanya dan pada kenabiannya.” Allah berfirman, “Apakah Aku menjadi saksimu?” Mereka menjawab, “Ya.” Allah berfirman, “Apakah kalian setuju, dan mengambil perjanjian dengan-Ku ini sebagai mengikat dirimu?” Mereka menjawab, “Kami setuju.” Allah berfirman, “Maka saksikanlah (hai para Nabi), dan Aku menjadi saksi (pula) bersamamu.”(QS 3:81).Inilah makna dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: `Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hukmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.’” (QS 3:81).Syaikh Taqiyyud Diin al-Subki mengatakan, “Dalam ayat mulia ini, tampak jelas penghormatan kepada Nabi (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) dan pujian atas kemuliaannya. Ayat ini juga menunjukkan bahwa seandainya beliau diutus di zaman Nabi-nabi lain itu, maka risalah da’wah beliau pun harus diikuti oleh mereka. Karena itulah, kenabiannya dan risalahnya adalah universal dan umum bagi seluruh ciptaan dari masa Adam hingga hari Pembalasan, dan seluruh Nabi beserta ummat mereka adalah termasuk pula dalam ummat beliau sall-Allahu ‘alayhi wasallam. Jadi, sabda sayyidina Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam), “Aku telah diutus bagi seluruh ummat manusia,” bukan hanya ditujukan bagi orang-orang di zaman beliau hingga Hari Pembalasan, tapi juga meliputi mereka yang hidup sebelumnya. Hal ini menjelaskan lebih jauh perkataan beliau, “Aku adalah seorang Nabi ketika Adam masih di antara ruh dan badannya.” Berpijak dari hal ini, Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) adalah Nabi dari para nabi, sebagaimana telah pula jelas saat malam Isra’ Mi’raj, saat mana para Nabi melakukan salat berjama’ah di belakang beliau (yang bertindak selaku Imam). Keunggulan beliau ini akan menjadi jelas nanti di Akhirat, saat seluruh Nabi akan berkumpul di bawah bendera beliau. (Disalin dari annafiz.wordpress.com)

Hakikat awal Nur Muhammad

Hakikat Awal Nur MuhammadHakikat Awal Nur Muhammad. Pamahaman tentang hakikat Nur Muhammad pada umumnya dimulai dari kajian asal yaitu ketika, seluruh alam belum ada dan belum satu pun makhluk diciptakan Allah swt. Pada saat itu yang ada hanya zat Tuhan semata-mata, satu-satunya zat yang ada dengan sifat Ujud-Nya. Banyak dari kalangan sufi memahami bahwa pada saat itu zat yang ujud yang bersifat qidam tersebut belumlah menjadi Tuhan karena belum bernama Allah, Untuk bisa dikatakan sebagai tuhan, sesuatu itu harus dan wajib ada yang menyembahnya. Apabila tidak ada yang menyembah maka tidak bisa sesuatu itu disebut Tuhan, demikianlah Logikanya.Karena  zat yang ujud-Nya besifat qidam tersebut pada saat itu hanya berupa zat, maka pada saat itu Dia belum menjadi Tuhan dan Dia belum bernama Allah, karena  kata Allah sendiri dipakai dan diperkenalkan oleh  Tuhan sendiri setelah ada makhluk yang akan menyembahnya serta hakikat makna dari kata Allah itu sendiri berarti yang disembah oleh sesuatu yang lebih rendah dari padanya. (untuk  pembahasan ini kita cukup memahaminya seperti itu)Setelah itu, barulah diciptakam Muhammad dalam ujud nur atau cahaya yang diciptakan atau berasal dari Nur atau Cahaya Zat yang menciptakannya ( sebagai perbandingan kaliamat Adam Diciptakan dari Tanah ). Yaitu Nur yang cahanya terang benderang lagi menerangi. ( kemudian nur tersebut difahami sebagai Nur Muhammad ). Nur itulah yang kemudian mensifati atau memberi sifat akan Zat yaitu sifat Ujud yang berati ada dan mustahil bersifat tidak ada karena sudah ada yang mengatakan “ ada “ atau meng-“ada”-kan yaitu Nur Muhammad.Jabir ibn `Abd Allah r.a. berkata kepada Rasullullah s.a.w:“Wahai Rasullullah, biarkan kedua ibubapa ku dikorban untuk mu, khabarkan perkara yang pertama Allah jadikan sebelum semua benda.” Baginda berkata: “Wahai Jabir, perkara yang pertama yang Allah jadikan ialah cahaya Rasulmu daripada cahayaNya, dan cahaya itu tetap seperti itu di dalam KekuasaanNya selama KehendakNya, dan tiada apa, pada masa itu ( Hr : al-Tilimsani, Qastallani, Zarqani ) `Abd al-Haqq al-Dihlawi mengatkan bahwa Hadist ini Sahih.Ali ibn al-Husayn daripada bapanya daripada kakaeknya berkata bahwa Rasullullah s.a.w berkata: “Aku adalah cahaya dihadapan Tuhanku selama empat belas ribu tahun sebelum Dia menjadikan Adam a.s.      (HR.Imam-Ahmad,Dhahabi,dan-al-Tabrani)Setelah  Nur   Muhamamad di ciptakan dari Nur atau  Cahaya  Zat – Nya, maka selanjutnya Nur Muhammad itu merupakan bagian yang tidak terpisahkan keberadaannya dengan Zat, karena dengan Nur Muhammad itulah, Zat melahirkan semua sifat yang disifati-Nya“ Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. perumpamaan cahaya Allah,  adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus[ * ], yang di dalamnya ada pelita besar.  pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang  (yang bercahaya)  seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya) [ ** ], yang minyaknya (saja) Hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu. “ ( QS : 024. : An Nuur : ayat : 35 )[*] Yang dimaksud lubang yang tidak tembus (misykat) ialah suatu lobang di dinding rumah yang tidak tembus sampai kesebelahnya, biasanya digunakan untuk tempat lampu, atau barang-barang lain.[**] Maksudnya: pohon zaitun itu tumbuh di puncak bukit ia dapat sinar matahari baik di waktu matahari terbit maupun di waktu matahari akan terbenam, sehingga pohonnya subur dan buahnya menghasilkan minyak yang baik.Ibn Jubayr dan Ka`b al-Ahbar berkata: “Apa yang dimaksudkan bagi cahaya yang kedua itu ialah Rasullullah s.a.w kerana baginda adalah PesuruhNya dan Penyampai dari Allah s.w.t terhadap apa yang menerangi dan terdzahir.” Ka`b berkata: ” Minyaknya bersinar akan berkilauan kerana Rasullullah s.a.w bersinar akan  diketahui kepada orang ramai walaupun jika baginda tidak mengakui bahawa baginda adalah seorang nabi, sama seperti minyak itu bersinar berkilauan walaupun tanpa dinyalakan.Dari dalil-dalil yang disampaikan diatas dapatlah difahami bahwa hubungan antara Nur Muhammad dengan Zat Tuhan adalah hubungan yang tidak dapat dipisahkan yaitu, dimana Allah berdiri disana nur muhammad berada, Ketika Allah disebut, maka disana Muhammad ikut menyertainya seperti pada pada kalimat tauhid “ La Ila Ha Illaallah, Muhammad rasululullah “ Ketika Allah disebut, maka mutlak disana Muhammad ikut atau berada. Ibarat api dengan panasnya. Dimana api berada, maka disana pula panasnya berada.  Dimana  Zat berada disana pula Nur Muhammad berada.  Bukanlah dikatakan api kalau tidak terasa panas. Ketika api disentuh, maka sesunggunya yang tersentuh hanyalah panasnya saja dan ketika terasa panasnya api pada hakikatnya yang dirasakan adalah api itu sendiri. Sehingga untuk memudahkan  pemahaman,   kalau diibaratkan “ api “ adalah zat dan  “ panas “  adalah  Nur Muhammad yang menjadi sifat yang tidak terpisahkan dari pada api.Sebagai contoh lain dapat difahami melalui konsep laut  dan gelombang. Tidaklah dikatakan sesuatu itu laut kalau dia tidak bergembang  ( ombak ).  Karena gelombang itu adalah sifat dari pada laut. Dimana ada laut,  maka  disana pula  ada gelombangnya. Tidak bergoncang  atau bergerak gelombang itu apabila laut tidak  bergoncang. Karena gelombang itu adalah laut yang bergocang. Ketika kita memandang laut yang terlihat adalah gelombangnya. Dan ketika mata memandang gelombang, pada hakikatnya yang dipandang  adalah laut . (Pemahaman ini sebaiknya disimpan dulu, untuk pemahaman kajian lebih lanjut) coba pelajari dan fahami hadist berikut dalam acuan pemahaman diatas“ Aku telah dimasukkan ke dalam tanah pada Adam dan adalah yang dijanjikan kepada ayahanda ku Ibrahim dan khabaran gembira kepada Isa ibn Maryam “ ( HR : Ahmad, Bayhaqi )“ Bila Tuhan menjadikan Adam, Dia menurunkan aku dalam dirinya (Adam). Dia meletakkan aku dalam Nuh semasa di dalam bahtera dan mencampakkan aku ke dalam api dalam diri Ibrahim. Kemudian meletakkan aku dalam diri yang mulia-mulia dan memasukkan aku ke dalam rahim yang suci sehingga Dia mengeluarkan aku dari kedua ibu-bapa ku. Tiada pun dari mereka yang terkeluar “. ( HR : Hakim, Ibn Abi `Umar al-`Adani )Ada yang bertanya padaku tentang uraian ini, pertanyaannya sebagai berikut :Dengan uraian tsb. lalu mau dikemanakan a.l. QS. 15:29 :“Setelah Aku sempurnakan bentuknya (Adam) dan Aku tiupkan kepadanya  (Adam) ruh-Ku, maka hendaklah kamu tunduk merendahkan diri kepadanya (Adam)”Dari ayat ini dan masih banyak lagi ayat-ayat lain yang terkait dengan posisi Adam As. dapat disimpulkan tidak ‘terselip’ perkalimat pun riwayat Nur Muhammad.Muhammad SAW manusia biasa, berbeda proses kelahirannya dengan Nabi Isa As. dan apalagi dengan penciptaan Adam As.Katakan (hai Muhammad): “Aku tidak mengatakan kepada kamu, bahwa aku (Muhammad) mempunyai perbendaharaan Allah, tidak pula aku mengetahui yang ghaib dan tidak pula aku mengatakan, bahwa ‘aku malaikat'; hanyalah aku mengikut apa yang diwahyukan kepadaku”. Katakan: ‘Samakah orang buta dengan orang yang dapat melihat?’ Tidakkah kamu pikirkan? (QS. 6:50).Jawabannya adalah :Dhohir memang sama, antara kita dengan nabi, tapi apakah hakikat itu sama? tentu tidak. Kebodohan akan hakikat bersumber dari hakikat hati masing2 yang tidak bisa mengerti akan hakikat. Hanya makhluk bodoh yg berselisih tentang hakikat.Man lam yazuq lam ya’rif: siapa tidak merasa pasti tidak tahu. Hanya orang yg merasalah yg dapat mengenal hakikat Nur Muhammad SAW.“Dzohir boleh berbeda tapi hakikatnya Satu jua” ,”Syuhudul kasroh fi Wahdah”. Hakikat adalah rahasia kedalaman hati, karena itu jika sudah mencapai dasar dari hati, maka tidak ada perselisihan. Tapi jika Hakikat diletakkan pada akal akhirnya timbul sangka2 akhirnya timbul perselisihan, perbanyaklah bersholawat untuk menemukan hakikat yang sebenarnya, karena sholawat bisa menjadi pengganti Guru Mursyid yang sekarang ini susah untuk kita temui.Diterangkan oleh hadits, asalnya Nabi Adam adalah dari saripati tanah-api-air-angin. Kalau tanah-api-air-angin, datang dari mana?  Diterangkan oleh hadits, asalnya dari nur muhammad, yaitu cahaya empat perkara:  cahaya hitam – hakikat tanah,  cahaya putih – hakikat air,  cahaya kuning – hakikat angin, dan cahaya merah – hakikat api.Kalau nur muhammad, asalnya dari mana? Menurut keterangan dari hadits, asalnya dari Nur Maha Suci, yaitujauhar awwal. Selepas ini, habis. Karena sudah dijelaskan di hadits dan Qur’an bahwa jauhar awwal adalah bibitnya tujuh bumi tujuh langit berikut segala isinya. Maka, yang dimaksud dengan dalil ‘bermula dari Allah’ adalah dari jauhar awwal ini.inti dalam menjalankan Islam dan Tujuan Vertikal diri adalah Tarikat, Syariat, Hakikat dan MA’rifat…..Nur Muhammad adalah cahaya yg berbinar sehingga terciptalah semuanya.. Manusia, Gunung, api, matahari dll. Alam Semesta bersalawat kepada Rasulullah dan Sujud kepada Allah SWT.Pada penciptaan Adam.as, beliau di wajibkan untuk Menyebut 2 kalimat Syahadat…itu salah satu Bukti Nur  Muhammad ada pada Diri Adam (dan pertama kali diciptakan) ketika di sempurnakan oleh ALLAH sebagai Hambanya memeluk Islam (pada waktu itu). (Disalin dari annafis.wordpress.com)

Nur Muhammad (disalin dari annafiz.wordpress.com)

Hakikat Nur Muhammad,. Banyak pendapat dan pertentangan pendapat tentang Hakikat Nur Muhammad yang akan menjadi topik bahasan dalam Kajian Hakikat Tauhid  ini. Perbedaan pendapat itu pada umumnya terdapat pada kisaran tentang Penciptaan Nur Muhammad dan Awal Muhammad. Masing-masing pendapat berusaha untuk menampilkan dan menyandarkan pendapatnya kepada ayat-ayat Al-Quran dan hadist-hadistserta penjelasan-penjelasan yang logis dan ilmiah untuk mendukung kebenaran pendapat mereka. Mungkin saya, atau anda termasuk salah satu diantara merekaMasing-masing pihak berusaha untuk membantah pendapat yang lainnya. Bahkan ada diantaranya yang menyatakan bahwa hadist-hadist yang disampaikan sebagai dasar dari pendapat yang berseberangan dengan pendapatnya adalahhadist lemah bahkan hadist palsu dan sebagainya. Sehingga pada akhirnya hanya pendapat dia sajalah yang paling benar.Mengenai hal tersebut, saya lebih tertarik dengan pernyataan yang disampaikan oleh Ibnu Hajar yang menyatakan bahwa,setiap pendapat yang berusaha menjelaskan suatu urusan tentang agama yang tidak mempunyai penjelasan yang tegas, pada umumnya hanya berupa penafsiaran yang berusaha untuk menyelaraskan maksud dan pemahamannya dengan apa yang dimaksud oleh Allah swt. Sedangkan yang dimaksud oleh Allah swt bisa jadi adalah demikian atau sama sekali bukan demikian, kebenaran yang sesungguhnya adalah milik Allah swtSedangkan tentang saling kalim bahwa hadist yang disampaikan satu pihak oleh pihak yang lain adalah hadist lemah atau hadist palsu. Saya berpendapat bahwa, sesuai dengan konsep dasar pembelajaran ilmu hadist, dalam perkembangannya memang terdapat bebarapa hadist yang sebelumnya dinyatakan sahih ternyata belakangan ditemukan lemah sanadnya atau bahkan ternyata bukan hadist. Namun dengan pemahaman bahwa apabila satu hadist yang sebelumnya dianggap lemah tenyata diriwayatkan oleh banyak orang dengan jalan yang berbeda, bisa jadi hadist tersebut adalah sahih. Karena tidak mungkin atau kecil sekali kemungkinannya banyak orang berbohong pada masalah yang sama pada saat yang bersamaan.Tapi apabila dicermati kedua pendapat yang yang saling bertolak belakang tentang keberadaan Nur Muhammad tersedari pemahaman wahabi yang memang pada awal keberadaan fahamnya menolak setiap pendapat diluar dari pendapatnya sendiri. Sedangkan pendapat yang lain, selain pendapat dari faham wahabi atau dari kalangan Ahlu Sunnah Wal Jamaah cendrung hanya mempersoalkan tentang penciptaan mana yang lebih dahulu diciptakan antara Kalamdan Nur Muhammad. Sehingga keberadaan Nur Muhammad tersebut sebetulnya sudah disepakati.Perlu juga disampaikan dalam kajian awal pada category Hakikat Nur Muhammad  ini, bahwa Nur Muhammad yang dibahas bukan Nabi Muhammad saw yang dilahirkan diMakkah dan wafatnya di Medinah, Ayahnya bernama Abdullahdan Ibunya bernama Aminah, tetapi Nur Muhammad yang dimaksud dalam Kajian Hakikat Tauhid ini adalah sesuatu yang diciptakan Allah swt yang akan membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan yang tidak ada Tuhan selain Dia yang berhak untuk disembah.Secara logika dapat digambarkan bahwa tidaklah bisa dikatakan sesorang itu sebagai seorang guru apabila dia tidak mempunyai murid atau tidak ada orang yang belajar kepadanya, dan tidaklah bisa dikatakan bahwa sesorang itupemimpin kalau tidak ada rakyat yang dipimpinnya. Tentunya tidaklah dikatakan Allah swt itu sebagai Tuhan, apabila tidak ada makhluk yang menyembahnya dan yang menyembah itulah yang dikatakan sebagai Nur Muhammad. ( Insya Allah akan dibahas lebih lanjut )Dengan pemahaman itu, maka sudah jelas bahwa yang pertama sekali diciptakan Allah swt sebagai Tuhan adalah Nur Muhammad, karena tanpa Nur Muhammad itu Allah swt belum menjadi Tuhan, karena belum ada yang menyembah-Nya. Setelah ada yang menyembah, barulah Allah swt menciptakan kalam untuk berkata-kata karena tidak mungkin Allah swt berkata-kata sendirian. Setelah memahami konsep sederhana yang disampikan diatas, barulah kita bisa melanjutkan kajian tentang apa dan siapa Nur Muhammad itu dan bagaimana proses penciptaannya dan hubungannya dengan makhluk yang lain yang diciptakan Allah swt sesudahnya.

Monday, 29 August 2011

Sufi's Life : BAIK SANGKA TERHADAP ALLAH S.W.T



JIKA KAMU BELUM MENCAPAI BAIK SANGKA TERHADAP ALLAH  LANTARAN KESEMPURNAAN SIFAT-NYA, MAKA HENDAKLAH KAMU MEMPERBAIKI SANGKA TERHADAP WUJUD-NYA KERANA WUJUD-NYA BESERTA KAMU. BUKANKAH DIA TIDAK MELETAKKAN KAMU MELAINKAN PADA YANG BAIK-BAIK DAN TIDAK MENYAMPAIKAN KEPADA KAMU MELAINKAN NIKMAT-NIKMAT-NYA.

Kita menggantungkan harapan dan hajat kepada sesama makhluk kerana kurangnya pengenalan (makrifat) terhadap Allah s.w.t. Apabila kurang kenal maka kita mengadakan sangkaan-sangkaan terhadap-Nya. Sangkaan dibahagikan kepada dua iaitu sangkaan baik dan sangkaan buruk. Sangkaan baik datangnya dari iman dan sangkaan buruk datangnya dari keraguan. Corak sangkaan terhadap Allah s.w.t itulah menentukan haluan hajat dan harapan. Jika kita menyangkakan ada makhluk yang mampu menyampaikan harapan dan hajat kita maka kita bersandar kepada makhluk. Jika kita menyangkakan makhluk tidak berdaya maka kita tidak bersandar kepada makhluk.

Perkara sangkaan ini masih lagi di bawah persoalan Iradat dan Kudrat Allah s.w.t. Sangkaan baik dibawa oleh malaikat dan sangkaan buruk dibawa oleh syaitan. Kedatangan sangkaan buruk adalah tanda rohani kita masih terikat dengan alam dunia yang diselubungi oleh cahaya syaitan. Syaitan berada di bawah bumbung langit dunia dan rohani kita juga berada di bawah bumbung yang sama, maka syaitan boleh menjadi kawan dan juru nasihat kepada hati kita. Selagi rohani kita tidak melepasi kongkongan langit dunia selagi itulah gerak hati atau lintasan yang dibawa oleh syaitan mengganggu hati kita. Tujuan latihan kerohanian ialah memberi kekuatan kepada rohani  agar ia dapat naik melepasi langit dunia, lalu lepaslah ia daripada taklukan syaitan. Lintasan syaitan tidak lagi mengganggu hatinya, sebaliknya hati akan menerima lintasan malaikat.

Apabila kita memahami tentang hakikat sangkaan buruk maka kita akan berusaha membuangnya agar ia tidak melekat di hati kita. Kemudian sangkaan itu digantikan dengan sangkaan baik. Bagi kita orang awam, baik sangka terhadap Allah s.w.t dibina di atas kesedaran terhadap nikmat-nikmat yang Allah s.w.t kurniakan kepada kita. Nikmat yang kita terima daripada Allah s.w.t tidak pernah putus sejak kita mula dijadikan hinggalah ke detik ini. Dalam surah al-Mu'minuun ayat-ayat 12 hingga 14 Allah s.w.t memberi gambaran yang jelas tentang kejadian manusia, supaya manusia menginsafi nikmat yang diterimanya tanpa diminta dan Allah s.w.t memberi nikmat dengan sebaik-baiknya. Maksud firman-Nya itu ialah:

Dan sesungguhnya Kami jadikan manusia dari air yang tersaring dari tanah. Kemudian Kami jadikan dia setitik mani di tempat ketetapan yang terpelihara. Kemudian mani itu Kami jadikan segumpal darah, lantas darah itu Kami jadikan seketul daging. Kemudian daging itu Kami jadikan tulang-tulang. Kemudian tulang-tulang itu Kami baluti dengan daging. Lantas Kami jadikan dia kejadian yang lain. Maha Suci Allah, sebaik-baik Pencipta.

Perhatikan maksud ayat-ayat di atas. Siapakah kita pada peringkat-peringkat tersebut? Apakah kita sudah ada ikhtiar dan usaha? Adakah kita sudah pandai berharap dan berhajat? Tidak, ketika itu kita tidak memiliki apa-apa dan tidak mengetahui apa-apa. Dalam keadaan yang paling lemah dan paling tidak mengerti apa-apa itu adakah Allah s.w.t membiarkan kita?  Adakah lantaran kita tidak berusaha dan berikhtiar maka Dia membiarkan kita kelaparan dan kehausan? Adakah lantaran kita tidak mengajukan harapan dan hajat maka Dia tidak memperdulikan kita? Tidak, sama sekali tidak! Allah s.w.t tidak sekali-kali membiarkan hamba-hamba-Nya. Dia memberi perlindungan dan penjagaan tanpa diminta, tanpa diusahakan, tanpa diharapkan dan tanpa dihajatkan. Apakah ketika di dalam perut ibu sahaja Allah s.w.t memberikan kebaikan kepada kita dan menyekatnya apabila kita meluncur keluar kepada alam dunia ini? Tidak, bahkan nikmat kebaikan Allah s.w.t berjalan terus, cuma bezanya ketika di dalam perut ibu kita menerima tanpa kesedaran  dan tanpa pengetahuan, apabila kita berada di dunia kita menerima nikmat serta kebaikan itu dengan kesedaran dan berpengetahuan. Kesedaran dan pengetahuan itu membina sangka baik kita kepada Allah s.w.t. Jika Allah s.w.t telah membuktikan Dia sanggup memberi tanpa diminta mengapa ia enggan memberi apabila harapan dan hajat ditujukan kepada-Nya? Hamba yang insaf akan yakin kepada Allah s.w.t dan dia akan bergantung kepada Allah s.w.t dengan baik sangka.

Kesedaran dan pengetahuan terhadap kebaikan yang Allah s.w.t lakukan membuat seseorang hamba mengerti bahawa Allah s.w.t berbuat baik kerana Dia bersifat dengan sifat yang baik-baik. Kesan daripada sifat yang baik muncullah perbuatan yang baik. Apabila kebaikan Allah s.w.t dilihat pada sifat-Nya, aneka ragam perbuatan yang sebahagiannya mengelirukan pandangan, tidak lagi memudarkan sangkaan baik seseorang hamba terhadap Allah s.w.t. Walaupun ada perbuatan Allah s.w.t yang kelihatan menekan hamba-Nya, tetapi Allah s.w.t yang sempurna sifat –sifat-Nya, dan semua sifat-Nya adalah baik belaka, tiada sebesar zarah pun yang tidak baik, mana mungkin boleh lahir perbuatan yang tidak baik daripada-Nya. Jadi, baik sangka yang bersandar kepada sifat adalah lebih kuat daripada baik sangka yang terhenti pada perbuatan. Baik sangka yang bersandar kepada perbuatan masih menyembunyikan keraguan yang samar-samar iaitu rasa kurang senang dengan apa yang berlaku, seperti firman-Nya:

Dan boleh jadi kamu benci  pada sesuatu padahal ia baik bagi kamu. ( Ayat 216 : Surah al-Baqarah )

Baik sangka yang bersandarkan kepada sifat akan melahirkan tawakal dan reda yang sebenarnya, sesuai dengan maksud:

Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Mengasihani.
Segala puji tertentu bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan sekalian alam. Yang Maha Pemurah lagi Maha Mengasihani. Yang Menguasai pemerintahan hari Pembalasan (hari Akhirat). Engkaulah sahaja (Ya Allah) yang kami sembah, dan kepada Engkaulah sahaja kami memohon pertolongan. ( Ayat 1 – 4 : Surah al-Faatihah )


Allah s.w.t sahaja memiliki sifat ketuhanan yang menguasai dan mentadbir seluruh alam. Sifat ketuhanan-Nya tidak berpisah dari sifat Pemurah dan Penyayang. Apa juga yang Dia lakukan kepada alam dan isi alam adalah dengan kasih sayang dan kasihan belas. Tidak ada kezaliman dan kejahatan pada perbuatan-Nya. Dia mampu menaburkan ke seluruh alam akan kasih sayang dan kasihan belas-Nya kerana Dia memiliki hari Agama, iaitu semua kehidupan, dunia, Alam Barzakh, akhirat, yang diketahui oleh makhluk, yang tidak diketahui oleh makhluk, semua khazanah dan segala-galanya adalah milik-Nya yang mutlak, tidak berkongsi dengan sesiapa pun. Lantaran itu hanya Dia yang disembah dan hanya kepada-Nya diajukan permintaan dan harapan.

Sufi's Life : HAJAT DARIPADA ALLAH S.W.T, HANYA DIA DAPAT MELAKSANAKANNYA



JANGAN DIAJUKAN HAJATMU KEPADA SELAIN ALLAH S.W.T. ALLAH S.W.T YANG MENDATANGKAN HAJAT ITU KEPADA KAMU. SIAPAKAH YANG SELAIN ALLAH S.W.T DAPAT MENGANGKAT SESUATU YANG DILETAKKAN OLEH ALLAH S.W.T? BARANGSIAPA YANG TIDAK MAMPU MELAKSANAKAN HAJAT DIRINYA SENDIRI, BAGAIMANA PULA DIA SANGGUP MELAKSANAKAN HAJAT ORANG LAIN.

Dalam membentuk keperibadian tauhid, kita perlu melihat sesuatu dari asal mulanya hinggalah kepada penghabisan sampainya. Orang yang masih dalam proses membentuk keperibadian tauhid, diibaratkan jambatan tempat lalu-lintas yang datang dan yang pergi. Apa yang datang menceritakan asalnya dan yang pergi menceritakan tujuannya. Jambatan itu ialah hati dan yang datang itu bermacam-macam, antaranya adalah niat, harapan, angan-angan, cita-cita, hajat dan keinginan. Semuanya datang dari arah yang sama, semuanya bukan jenis benda yang berupa, tetapi adalah jenis tenaga atau kuasa ghaib. Walaupun ghaib, masing-masing itu mempunyai keupayaan dan kekuatan untuk memberi kesan kepada hati. Kesan yang berbeza-beza menyebabkan satu keupayaan dan kekuatan dapat dibezakan dengan keupayaan dan kekuatan yang lain. Boleh dikenal keupayaan dan kekuatan marah, benci, suka, niat, harapan, hajat dan lain-lain. Sumber datangnya segala-galanya ialah makam Lahut (zat Ilahiat), turun kepada makam Jabarut (sifat). Pada makam Jabarut muncullah Iradat dan Kudrat. Iradat dan Kudrat Allah s.w.t menjadi sumber kepada semua keupayaan dan kekuatan. Pancaran Iradat dan Kudrat diterima oleh Alam Malakut sebagai perintah Allah s.w.t. Iradat dan Kudrat yang diterima oleh para malaikat dinamakan Haula dan Kuwwata Allah s.w.t, lalu malaikat-malaikat yang menyambutnya mengucapkan:

Tidak ada keupayaan dan kekuatan melainkan (Iradat dan Kudrat) Allah s.w.t.

Perintah-perintah yang berhubung dengan manusia dibawa turun dari Lahut kepada Jabarut kepada malakut dan kemudiannya kepada langit dunia atau langit pertama. Langit pertama adalah tempat pengasingan. Ketika Rasulullah s.a.w Mikraj, baginda s.a.w melihat dilangit pertama ada satu pintu ke syurga dan satu pintu ke neraka. Apa yang naik ke atas diasingkan di langit pertama dan apa yang turun ke bawah diasingkan juga di langit yang pertama.

Perintah yang berupa kebaikan turun dari langit pertama dengan diiringi oleh malaikat hingga sampai kepada manusia. Perintah yang mengandungi keburukan diiringi oleh syaitan hingga sampai kepada manusia juga. Baik dan jahat hanya diasingkan apabila memasuki dunia. Pada Alam Malakut tidak ada jahat dan tidak ada baik kerana semuanya diterima oleh malaikat sebagai perintah Allah s.w.t. Malaikat yang memukul ahli neraka tidak membuat kezaliman tetapi melaksanakan perintah Allah s.w.t, tetapi manusia yang memukul manusia lain di dunia adalah melakukan kezaliman. Manusia dan jin yang mendiami alam dunia inilah yang dihadapkan dengan kebaikan dan kejahatan. Makhluk lain dalam dunia tidak memikul kebaikan dan kejahatan. Harimau yang memakan rusa tidak dikira melakukan kejahatan. Angin yang menerbangkan rumah orang tidak dikira sebagai melakukan kezaliman. Hanya manusia dan jin yang dipertanggungjawabkan memikul kebaikan dan kejahatan. Jin jenis jahat dinamakan syaitan. Syaitan sangat gemarkan apa sahaja yang jahat. Syaitan menanti dibawah bumbung langit dunia dan mengiringi keburukan yang turun dengan penuh sukaria hingga sampailah kepada hati manusia. Perkara yang baik diiringi oleh malaikat hingga selamat sampai kepada hati manusia. Walaupun begitu syaitan masih juga mencuba mengganggu perkara baik itu agar bertukar menjadi buruk, tetapi dihalang oleh malaikat.

Setiap perkara yang diterima oleh hati, dibawa oleh malaikat dan syaitan, diberi berbagai-bagai nama mengikut kesannya kepada hati. Ada yang dipanggil niat, ada yang dipanggil keinginan dan ada yang dipanggil hajat serta banyak lagi nama yang digunakan untuk membezakan yang satu dengan yang lain. Setiap yang dibawa oleh malaikat adalah baik, maka lahirlah niat baik, kehendak yang baik dan hajat yang baik. Setiap yang dibawa oleh syaitan adalah buruk, maka lahirlah niat buruk, keinginan jahat dan hajat yang jahat. Biar apa pun istilah yang digunakan, yang pasti ia mempunyai keupayaan untuk menarik hati agar cenderung ke arah atau kepada sesuatu dan ada kekuatan yang memaksa hati untuk mengadakan tindakan mengarah kepada yang dicenderungi itu. Keupayaan dan kekuatannya bukan sahaja terhenti setakat hati dan anggota-anggota di bawah kawalannya sahaja, malah ia mampu bergerak melalui ruang dan zaman.

Keupayaan dan kekuatannya mampu mempengaruhi orang lain supaya bergerak ke arah yang sama. Misalnya, seorang pemimpin yang berwawasan mampu mempengaruhi orang ramai supaya bergerak ke arah wawasannya. Ketua penjahat juga mampu menekankan rencana jahatnya kepada anak buahnya. Wawasan dan rencana itu boleh diteruskan oleh orang lain dan boleh juga melintasi zaman lain walaupun orang yang memulakannya sudah meninggal dunia. Sebab itulah sesuatu amal yang dipelopori oleh seseorang kemudian menjadi ikutan orang lain maka si pelopor itu tetap bertanggungjawab ke atas perbuatan orang yang mengikutnya, kerana pada hakikatnya keupayaan dan kekuatan yang diterimanya itulah yang disebarkannya kepada orang lain.

Makhluk yang pertama menerima keupayaan dan kekuatan jahat ialah iblis laknatullah dan daripadanya keupayaan dan kekuatan jahat itu tersebar. Sesiapa yang melakukan kejahatan dia berbuat demikian dengan tenaga iblis laknatullah. Makhluk yang pertama menerima keupayaan dan kekuatan baik ialah Nabi Muhammad s.a.w. Walaupun Nabi Adam a.s diciptakan terlebih dahulu daripada Nabi Muhammad s.a.w tetapi roh Nabi Muhammad s.a.w diciptakan terlebih dahulu dan roh Nabi Muhammad s.a.w itulah bekas yang pertama menerima tenaga baik. Sesiapa sahaja yang melakukan kebaikan maka dia berbuat demikian dengan menggunakan tenaga yang dibekalkan oleh Roh Muhammad s.a.w. Kejahatan tidak berpisah dengan iblis laknatullah. Kebaikan tidak berpisah dengan Muhammad s.a.w.

Dan tiadalah Kami mengutuskan engkau (wahai Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam (semua makhluk pada semua zaman) ( Ayat 107 : Surah al-Anbiyaa’ )

Tidak ada satu pun makhluk yang memperolehi atau melakukan kebaikan melainkan ia bernaung di bawah rahmat yang Allah s.w.t telah tentukan kepada Nabi Muhammad s.a.w, walaupun kebaikan itu berlaku sebelum baginda s.a.w lahir ataupun sesudah baginda s.a.w wafat. Begitulah pandangan kita jika memandang kepada sempadan alam. Sekiranya pandangan kita tidak berubah dari asal mula sesuatu tentu Iradat dan Kudrat Allah s.w.t tidak terlindung daripada kita. Kita akan melihat bahawa Iradat dan Kudrat Allah s.w.t sahaja yang menimbulkan keupayaan dan kekuatan yang singgah kepada hati lalu dinamakan niat, kemahuan atau hajat. Iradat dan Kudrat Allah s.w.t yang sama juga memperjalankan niat, kemahuan dan hajat melalui ruang dan waktu. Semuanya adalah Iradat dan Kudrat Allah s.w.t.

Dan kamu tidak dapat menentukan kemahuan kamu (mengenai sesuatupun),  kecuali dengan cara yang diatur oleh Allah. ( Ayat 29 : Surah at Takwiir )
“Padahal Allah yang mencipta kamu dan benda-benda yang kamu perbuat itu!” ( Ayat 96 : Surah as-Saaffaat )

Rasulullah s.a.w bersabda:
Sesiapa dibimbing oleh Allah s.w.t kepada jalan yang benar engkau tidak dapat menyesatkannya dan sesiapa yang dibimbing oleh Allah s.w.t kepada kesesatan engkau tidak dapat meluruskannya.
Kita sering ucapkan:

Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Allah s.w.t.

Pandangan tauhid memperlihatkan kepada kita bahawa pada apa jua keadaan Iradat dan Kudrat Allah s.w.t tidak luput daripada kita walaupun dalam niat, harapan atau hajat. Apabila mata hati memandang dari asal mula hingga ke akhir tujuan tetap pada Allah s.w.t maka hati pun akan bersandar kepada Allah s.w.t sahaja, tidak lagi bergantung kepada sesama makhluk dan tidak juga kepada dirinya sendiri. Dirinya dan orang lain sama-sama dipikulkan beban. Orang yang memikul beban tidak mampu mengangkat bebannya sendiri, jauh sekali untuk mengangkat beban orang lain. Siapakah dari kalangan makhluk Allah s.w.t yang dapat mengubah apa yang Allah s.w.t telah tetapkan dengan Iradat-Nya dan laksanakan dengan Kudrat-Nya? Tidak ada yang boleh berbuat demikian melainkan Allah s.w.t.

Perintah berbentuk kebaikan yang dibawa oleh malaikat mudah kita mengerti dan terima sebagai Iradat dan Kudrat Allah s.w.t. Bagaimana pula ‘perintah’ keburukan yang dibawa oleh syaitan? Adakah kita perlu melakukan keburukan tersebut? Adakah Allah s.w.t memerintahkan kita berbuat jahat? Persoalan ini membuat kita keliru. Kita harus meneliti perkara ini dengan mendalam supaya tidak terjadi salah iktikad. Ibaratkan syaitan sebagai anjing dan Tuhan adalah Tuan yang memerintahnya. Anjing tidak akan menyalak dan menggigit jika tidak diizinkan atau diperintah oleh Tuannya. Andainya Tuan mengizinkan anjing menyalak dan menggigit kita kemungkinannya adalah kerana:

1:  Tuan murka kepada kita.
2:  Kita mencabar hak Tuan.
3:  Pada diri kita ada sesuatu yang digemari oleh anjing.

Apabila kita berhadapan dengan situasi seperti di atas kita mempunyai dua pilihan iaitu: 1: Kita membiarkan diri kita digigit oleh anjing. Jika yang menggigit itu adalah anjing gila maka kita juga akan terkena penyakit anjing gila.
2:  Kita lari kepada Tuannya dan merayu agar menghalau anjing itu daripada kita.

Ketika menerima kedatangan ‘perintah’ supaya berbuat jahat kita mesti menerimanya dengan bijaksana agar kita tidak salah mentafsirkannya. Allah s.w.t selalu mengingatkan kita bahawa syaitan adalah musuh kepada manusia, dan layanlah syaitan itu sebagai musuh. Kita diajarkan supaya berlindung kepada Allah s.w.t dari syaitan yang kena rejam. Jika Allah Yang Maha Mulia menyuruh utusan yang sangat keji yang menjadi musuh kita, membawa  benda busuk kepada kita apakah yang dapat kita katakan tentang nilai diri kita pada pandangan Allah s.w.t? Nilai diri kita adalah sama dengan benda busuk yang dibawa oleh musuh kita itu, iaitu kita ini adalah umpama tong sampah yang layak untuk diisikan dengan sampah sarap. Sekiranya kita menginsafi perkara tersebut, sebaik sahaja utusan yang keji itu dan benda yang busuk itu sampai kepada kita, tentu sekali kita akan jatuh pengsan kerana takut dan khuatir terhadap kehinaan diri kita dan kemurkaan Allah s.w.t kepada kita. Apabila sedar kita seharusnya menginsafi akan kejahatan dan kehinaan diri kita yang menyebabkan utusan yang jahat dan dilaknat membawa benda kotor dan busuk kepada kita. Kita seharusnya menyucikan diri kita agar kekotoran hilang. Kita sepatutnya memperbanyakkan taubat, memohon keampunan dan belas kasihan daripada Allah s.w.t. Kita sepatutnya memperbaiki diri kita, bukan membaham benda busuk yang dibawa oleh utusan yang keji itu. Oleh sebab yang datang itu dengan keizinan Allah s.w.t ia membawa kekuatan yang tidak terdaya kita menentangnya dengan kekuatan diri kita sendiri. Sebab itulah kita diajarkan supaya mengadu kepada Allah s.w.t dan meminta perlindungan-Nya. Sekiranya kita menentangnya dengan kekuatan diri kita sendiri, kita akan tewas, tetapi jika kita berlindung di bawah payung kekuatan Allah s.w.t kita akan menang. Jadi, dalam menghadapi perintah baik dan ‘perintah’ jahat kita mesti lari kepada Allah s.w.t kerana segala sesuatu datangnya dari Allah s.w.t dan hanya Dia yang mampu menangani segala sesuatu itu.

Penting bagi orang yang melatih kerohaniannya memerhatikan gerak hatinya kerana ia adalah utusan yang membawa perkhabaran dan pemberi petunjuk. Jika kita selalu dikunjungi oleh utusan yang membawa kejahatan itu tandanya kita berada jauh dari Allah s.w.t, Tuan Yang Maha Mulia. Perutusan yang sampai itu merupakan teguran agar kita membetulkan jalan. Jalan yang sesuai untuk kita pilih dan lari ke dalamnya ialah bertaubat, beristighfar, mengingati balasan terhadap dosa, mengingati mati dan takut dengan sebenar-benar takut kepada Allah s.w.t yang berbuat sekehendak-Nya tanpa boleh dihalang oleh sesiapa pun. Jika perutusan yang datang membawa kebaikan maka jalan yang patut ditempuh ialah memperbanyakkan syukur, puji-pujian terhadap-Nya, mensucikan-Nya, serta memperteguhkan tawakal dan reda dengan takdir-Nya. Gerak hati atau lintasan hati adalah Kalam Allah s.w.t yang membawa perintah, teguran, nasihat dan tanda-tanda. Semuanya menjadi ujian kepada hati itu sendiri.

Sufi's Life : AL-KARIM, TUMPUAN SEGALA HAJAT



JANGAN DILAMPAUI NIAT TUJUAN KAMU KEPADA SELAIN-NYA KERANA AL-KARIM TIDAK DAPAT DILAMPAUI OLEH SEBARANG HARAPAN.

Orang yang masih dalam perjalanan sangat teringin untuk cepat sampai kepada Allah s.w.t. Dia terpesona melihat keadaan orang-orang yang telah sampai. Kadang-kadang timbul rasa tidak sabar untuk ikut sama sampai kepada tujuannya. Perasaan tidak sabar akan menimbulkan harapan atau cita-cita agar ada seseorang yang dapat menolong mengangkatnya. Orang yang diharapkan itu mungkin terdiri daripada mereka yang telah sampai atau mungkin juga dia menaruh harapan kepada wali-wali ghaib dan malaikat-malaikat. Maksud dan tujuannya tidak berubah, iaitu sampai kepada Allah s.w.t tetapi dalam mencapai maksud itu sudah diselit dengan harapan kepada selain-Nya. Ini bermakna sifat bertawakal dan berserah dirinya sudah bergoyang. Sebelum dia terjatuh, Hikmat 47 ini menariknya supaya berpegang kepada al-Karim. Walau kepada siapa pun diletakkan harapan namun, harapan dan orang berkenaan tetap mencari al-Karim. Tidak ada harapan dan cita-cita yang dapat melepasi al-Karim.

Al-Karim adalah salah satu daripada Asma-ul-Husna. Nama ini memberi pengertian istimewa tentang Allah s.w.t. Al-Karim bermaksud:

1:  Allah s.w.t Maha Pemurah.
2:  Allah s.w.t memberi tanpa diminta.
3:  Allah s.w.t memberi sebelum diminta.
4:  Allah s.w.t memberi apabila diminta.
5:  Allah s.w.t memberi bukan kerana permintaan, tetapi cukup sekadar harapan, cita-cita dan angan-angan hamba-hamba-Nya. Dia tidak mengecewakan harapan mereka.
6:  Allah s.w.t memberi lebih baik daripada apa yang diminta dan diharapkan oleh para hamba-Nya.
7:  Allah Yang Maha Pemurah tidak kedekut dalam pemberian-Nya. Tidak dikira berapa banyak diberi-Nya dan kepada siapa Dia memberi.
8:  Paling penting, demi kebaikan hamba-Nya sendiri, Allah s.w.t memberi dengan bijaksana, dengan cara yang paling baik, masa yang paling sesuai dan paling bermanafaat kepada si hamba yang menerimanya.

Sekiranya para hamba mengenali al-Karim nescaya permintaan, harapan dan angan-angan tidak tertuju kepada yang lain melainkan kepada-Nya. Allah al-Karim menciptakan makhluk dengan kehendak-Nya tanpa ada kaitan dengan sebarang permintaan, cita-cita atau harapan sesiapa pun. Dia menentukan dan menetapkan hukum pada setiap kejadian-Nya dengan kehendak-Nya juga. Dia menyediakan segala keperluan makhluk-Nya dan mempermudahkan makhluk-Nya memperolehi rezeki masing-masing dengan kehendak-Nya juga. Tidak ada sesuatu yang campur tangan dalam urusan-Nya membahagikan kebaikan kepada makhluk-Nya.

Manusia terhijab memandang kepada kemurahan al-Karim oleh sikap mereka sendiri. Mereka menerima sesuatu kebaikan al-Karim sebagai perkara semulajadi sehingga mereka lupa perkara yang mereka anggap sebagai semulajadi itu sebenarnya dijadikan, tidak ada sebarang kebetulan pada urusan Tuhan. Tuhan mengatur sesuatu dengan rapi, kemas dan sempurna, tiada sebarang kecacatan dan tidak ada kebetulan. Pergantian siang dengan malam, perubahan cuaca, keberkesanan sistem sebab-akibat adalah kurniaan al-Karim untuk manfaat makhluk-Nya, tanpa sesiapa meminta Dia berbuat demikian. Sistem perjalanan darah, pernafasan, perkomahan, penghadhaman dan semua yang ada dengan manusia adalah kurniaan al-Karim yang memberi tanpa diminta. Manusia tidur malamnya dan dikejutkan oleh al-Karim pada siangnya tanpa diminta. Al-Karim menaburkan ikan-ikan di laut sebagai makanan manusia tanpa diminta. Al-Karim menurunkan hujan dan menyuburkan pokok-pokok tanpa diminta. Tidak dapat dinilaikan betapa besar dan banyaknya nikmat yang disediakan oleh al-Karim untuk makhluk-Nya tanpa mereka meminta. Makhluk berbangsa manusia adalah yang paling banyak menikmati kemurahan al-Karim.

Makhluk yang tidak dibekalkan nafsu dan akal  tidak tahu meminta. Mereka menerima apa sahaja yang al-Karim sediakan buat mereka. Manusia yang dibekalkan nafsu dan akal selain menerima segala nikmat yang disediakan oleh al-Karim tanpa mereka mengajukan permintaan, mereka juga mempunyai keinginan, harapan, cita-cita dan angan-angan. Dalam banyak perkara yang mereka inginkan mereka ajukan permintaan kepada Allah s.w.t. Allah al-Karim bukan sekadar memberi apa yang diminta malah Dia memberi juga apa yang dicita-citakan, diharapkan dan angankan.

Al-Quran mengingatkan manusia supaya mengenang nikmat kebaikan dan kemurahan Allah al-Karim.

Maka yang mana satu di antara nikmat-nikmat Tuhan kamu, yang kamu hendak  dustakan (wahai umat manusia dan jin)? ( Ayat 13 : Surah ar-Rahmaan )

Ayat di atas diulang sebanyak 31 kali dalam satu surah sahaja iaitu surah ar-Rahman. Wahai bangsa jin dan bangsa manusia yang dipikulkan tanggungjawab pengabdian kepada Allah s.w.t! Perhatikan nikmat, rahmat, kasihan belas dan kasih sayang-Nya, yang mana satu yang mahu kalian dustakan? Allah s.w.t menanyakan yang sama sebanyak 31 kali. Tiang Arasy bergegar sekiranya Allah s.w.t ajukan pertanyaan ini kepada para malaikat yang menanggung Arasy. Apakah tidak hancur hati kamu mendengar pertanyaan Tuhan ini? Makhluk bangsa jin yang beriman menyambut pertanyaan Tuhan ini dengan jawapan:

Ya Tuhanku! Tidak ada sesuatu pun dari kurnia Engkau, ya Rabbana, yang dapat kami dustakan.

Allah! Ar-Rahman! Al-Karim! Kepada siapa lagi hendak kamu ajukan permintaan? Kepada siapa lagi hendak kamu sandarkan harapan? Bukankah Dia telah berfirman:

Ia telah menetapkan atas diri-Nya  memberi rahmat. ( Ayat 12 : Surah al-An’aam )

Contohilah sikap Nabi Ibrahim a.s yang sentiasa bergantung kepada al-Karim dan tidak kepada yang lain. Beliau a.s menolak pertolongan yang ditawarkan oleh malaikat Jibrail a.s. Beliau a.s yakin bahawa Allah al-Karim tidak akan membiarkannya. Penyerahan Nabi Ibrahim a.s kepada al-Karim tidak sia-sia.

Kami berfirman: “Hai api, jadilah engkau sejuk serta selamat sejahtera atas Ibrahim!”. ( Ayat 69 : Surah Anbiyaa’ )

Allah s.w.t, al-Karim, menerima penyerahan penuh Nabi Ibrahim a.s dan Dia melindungi hamba-Nya yang bertawakal itu.

Berkata pula seorang yang mempunyai ilmu pengetahuan dari kitab Allah: “Aku akan membawanya kepadamu dalam sekelip mata!”  Setelah Nabi Sulaiman melihat singgahsana itu terletak di sisinya, berkatalah ia: “Ini ialah dari limpah kurnia Tuhanku, untuk mengujiku adakah aku bersyukur atau aku tidak mengenangkan nikmat pemberian-Nya. Dan (sebenarnya) sesiapa yang bersyukur maka faedah syukurnya itu hanyalah terpulang kepada dirinya sendiri, dan sesiapa yang tidak bersyukur (maka tidak menjadi masalah kepada Allah), kerana sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya, lagi Maha Pemurah”. ( Ayat 40 : Surah an-Naml )

Al-Karim yang menyejukkan api dari membakar Nabi Ibrahim a.s, Dia jugalah yang membawa Balkis dan istananya kepada Nabi Sulaiman a.s. Kurniaan Al-Karim tidak dapat diukur dan disukat. Dia memberi terlalu banyak kerana Dia sangat Pemurah.
 
Wahai Tuhan kami. Walau bagaimana banyak sekalipun kami menyebut kebaikan Engkau namun ia tetap tidak mencukupi. Ampunilah kami lantaran kelemahan kami menyatakan syukur yang selayaknya kepada Engkau.